Halo! Kamu bisa panggil saya Mimin, karena saya coba menempatkan diri sebagai mimin dari Cerita panjang di Parung Panjang ini. Dengan demikian, next saya akan mengganti kata ganti 'saya' menjadi 'mimin' yaaa.
Nah jadi ceritanya mimin dan suami itu membeli (read: menyicil) rumah di salah satu Cluster kecil di Parung Panjang. Mengapa pilihan jatuh di Parung Panjang? Well, sebelumnya kita sudah survey melanglang buana di pelipiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Cibubur, Tangerang dan salah satunya Parung Panjang ini. Ada banyak sekali pilihan saat itu. Tapi pertimbangan dari kami yang akhirnya memilih untuk tinggal di desa kecil ini adalah karena one and only, akses yang mudah.
AKSES
Jadi, walaupun menurut Google Map, Parung Panjang ini jauh melad melud begitu. Namun plus-nya, desa ini punya akses KRL (Commuter Line) yang mana lewat setiap 10 menit sekali. Tidak susah untuk mendapatkan kereta ke arah sini, beda seperti kalau mau ke Bogor atau Depok. Cukup50 menit dari stasiun Parung Panjang menuju Stasiun Tanah Abang.
Dann kebetulan, Cluster yang kami beli (read : cicil) itu aksesnya dekat sekali menuju Stasiun Parung Panjang. Jadi kami pikir, Parung Panjang adalah pilihan yang tepat buat kami yang bekerja di Jakarta dibanding kota pelipiran lainnya. Selain akses, tentu saja ada poin yang paling penting dalam pengambilan keputusan, yaitu harga.
HARGA
Harga per unit rumahnya relatif lebih murah dari daerah lainnya. Contohnya saja Bintaro atau Serpong. Yang kalau naek kereta itu cuma terlewati 3-4 stasiun. Beda waktu tempuh menuju jakarta sekitar 15-30 menit. Tapiiii unit rumahnya minimal 2 kali lipat dari nominal rumah yang kami ambil. Apalagi kalau disandingkan dengan rumah subsidi yang juga berada di Parung Panjang, entah berapa kali lipat. Mimin gak bakal sebutin harganya, karena takut masalah yaa, harga itu fluktuatif dan relatif juga. Menurut mimin mahal, menurut pembaca mungkin cuma seujung kuku. Tapi itulah pendapat jujur mimin soal harga rumah di sekitaran Parung Panjang.
KESAN PERTAMA
Kesan pertama mimin mengunjungi Parung Panjang, hmmm... kaya pulang kampung. Sampai di stasiun Parpan, mimin sempet amaze karena cukup besar. Dan saat itu weekend, jadi sepi. Pas keluar stasiun, mimin baru deh syok. Ternyata jalannya full berlubang. Lubangnya besar-besar, dan kebetulan abis hujan jadi beceekkk banget. Huhuhu. Mimin sudah hopless disana.
Trus jalan rayanyapun berlubang parah. Mana banyak tronton, beneran banyaakk (sampe sekarang)
dan ngebutt. MasyaAllah serem banget. Suasananya hmm berdebu, ngebul, panas teriiikk dan banyak sawah sana sini. Beneran kaya di kampung mimin, MasyaAllah.
Tapi marketing rumah ini tuh beneran jago, pake bilang bakal ada jalan tol lah, daerah ini itu udah dibeli Paramount lah, sedayu lah. Blablabla. Jadilah mimin dan suami teken buat cicil rumah disini.
Jadi begitulah cerita mimin kenapa bisa terdampar di Parung Panjang ini. Kalau akhirnya mimin bahagia atau engga, menyesal apa engga. Mimin masih merasa-rasa nih, bakal terus mimin update dari hari ke hari cerita hidup di Parpan iniiii.
ALASAN NULIS
Well, alasan nulis mimin bukan buat riya, atau hal buruk lainnya. Wallahu Alam. Mimin cuma berusaha memberikan informasi seputaran Parpan yang mimin tempati. Yang notabene disini bakal banyak perumahan baru dan pasti calon pembeli banyak yang pengen tau kaya apa tempat tinggal yang bakal mereka tempati. Walaupun tidak berdasarkan data, mimin mencoba memberikan informasi berdasarkan pengamatan subjektif mimin. Jika ada data yang masuk, insyaAllah mimin sampaikan beserta sumbernya. Mimin harap dengan tulisan sederhana mimin ini, bisa membuat gambaran bagaimana situasi di Parpan saat ini dan bagaimana kesaanya tinggal disini. Karena duluuu, pas mimin searching-searching susah sekali mendapatkan info soal Parpan karena minimnya orang yang menulis. Terlepas dari ada yang baca atau engga, mimin ga peduli. Tapi harapan mimin semoga bermanfaat yaa :)
Btw, maaf ya, mimin gak siapin foto waktu. Mungkin next bakal lebih siap. Yang udah baca, makasih yaa. Moga bermanfaat!
Nah jadi ceritanya mimin dan suami itu membeli (read: menyicil) rumah di salah satu Cluster kecil di Parung Panjang. Mengapa pilihan jatuh di Parung Panjang? Well, sebelumnya kita sudah survey melanglang buana di pelipiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Cibubur, Tangerang dan salah satunya Parung Panjang ini. Ada banyak sekali pilihan saat itu. Tapi pertimbangan dari kami yang akhirnya memilih untuk tinggal di desa kecil ini adalah karena one and only, akses yang mudah.
AKSES
Jadi, walaupun menurut Google Map, Parung Panjang ini jauh melad melud begitu. Namun plus-nya, desa ini punya akses KRL (Commuter Line) yang mana lewat setiap 10 menit sekali. Tidak susah untuk mendapatkan kereta ke arah sini, beda seperti kalau mau ke Bogor atau Depok. Cukup50 menit dari stasiun Parung Panjang menuju Stasiun Tanah Abang.
Dann kebetulan, Cluster yang kami beli (read : cicil) itu aksesnya dekat sekali menuju Stasiun Parung Panjang. Jadi kami pikir, Parung Panjang adalah pilihan yang tepat buat kami yang bekerja di Jakarta dibanding kota pelipiran lainnya. Selain akses, tentu saja ada poin yang paling penting dalam pengambilan keputusan, yaitu harga.
HARGA
Harga per unit rumahnya relatif lebih murah dari daerah lainnya. Contohnya saja Bintaro atau Serpong. Yang kalau naek kereta itu cuma terlewati 3-4 stasiun. Beda waktu tempuh menuju jakarta sekitar 15-30 menit. Tapiiii unit rumahnya minimal 2 kali lipat dari nominal rumah yang kami ambil. Apalagi kalau disandingkan dengan rumah subsidi yang juga berada di Parung Panjang, entah berapa kali lipat. Mimin gak bakal sebutin harganya, karena takut masalah yaa, harga itu fluktuatif dan relatif juga. Menurut mimin mahal, menurut pembaca mungkin cuma seujung kuku. Tapi itulah pendapat jujur mimin soal harga rumah di sekitaran Parung Panjang.
KESAN PERTAMA
Kesan pertama mimin mengunjungi Parung Panjang, hmmm... kaya pulang kampung. Sampai di stasiun Parpan, mimin sempet amaze karena cukup besar. Dan saat itu weekend, jadi sepi. Pas keluar stasiun, mimin baru deh syok. Ternyata jalannya full berlubang. Lubangnya besar-besar, dan kebetulan abis hujan jadi beceekkk banget. Huhuhu. Mimin sudah hopless disana.
Trus jalan rayanyapun berlubang parah. Mana banyak tronton, beneran banyaakk (sampe sekarang)
dan ngebutt. MasyaAllah serem banget. Suasananya hmm berdebu, ngebul, panas teriiikk dan banyak sawah sana sini. Beneran kaya di kampung mimin, MasyaAllah.
Tapi marketing rumah ini tuh beneran jago, pake bilang bakal ada jalan tol lah, daerah ini itu udah dibeli Paramount lah, sedayu lah. Blablabla. Jadilah mimin dan suami teken buat cicil rumah disini.
Jadi begitulah cerita mimin kenapa bisa terdampar di Parung Panjang ini. Kalau akhirnya mimin bahagia atau engga, menyesal apa engga. Mimin masih merasa-rasa nih, bakal terus mimin update dari hari ke hari cerita hidup di Parpan iniiii.
ALASAN NULIS
Well, alasan nulis mimin bukan buat riya, atau hal buruk lainnya. Wallahu Alam. Mimin cuma berusaha memberikan informasi seputaran Parpan yang mimin tempati. Yang notabene disini bakal banyak perumahan baru dan pasti calon pembeli banyak yang pengen tau kaya apa tempat tinggal yang bakal mereka tempati. Walaupun tidak berdasarkan data, mimin mencoba memberikan informasi berdasarkan pengamatan subjektif mimin. Jika ada data yang masuk, insyaAllah mimin sampaikan beserta sumbernya. Mimin harap dengan tulisan sederhana mimin ini, bisa membuat gambaran bagaimana situasi di Parpan saat ini dan bagaimana kesaanya tinggal disini. Karena duluuu, pas mimin searching-searching susah sekali mendapatkan info soal Parpan karena minimnya orang yang menulis. Terlepas dari ada yang baca atau engga, mimin ga peduli. Tapi harapan mimin semoga bermanfaat yaa :)
Btw, maaf ya, mimin gak siapin foto waktu. Mungkin next bakal lebih siap. Yang udah baca, makasih yaa. Moga bermanfaat!
Komentar
Posting Komentar